Dari Pantofel ke Sneakers: Evolusi Penampilan Profesional

Daftar Isi

 

Ilustrasi formal dress sneakers (Istimewa)

Dulu ada satu aturan tidak tertulis di dunia kerja: kalau mau terlihat profesional, pakailah pantofel.

Semakin mengilap sepatu kulit yang kamu kenakan, semakin besar kesan bahwa kamu adalah orang penting. CEO, bankir, pengacara, hingga pejabat publik berlomba tampil formal. Jas, dasi, dan pantofel menjadi paket lengkap yang sulit dipisahkan.

Tapi lihatlah kantor-kantor hari ini.

Seorang manajer bisa memimpin rapat dengan blazer dan sneakers putih. Seorang direktur startup datang ke forum bisnis memakai sepatu yang lebih mirip alas kaki nongkrong daripada perlengkapan ruang rapat. Bahkan di banyak perusahaan teknologi, memakai pantofel justru terasa terlalu formal.

Dress sneakers sedang mengambil alih dunia kerja.

Dress sneakers adalah sneakers yang dirancang lebih rapi dan elegan sehingga bisa dipadukan dengan pakaian semi formal. Bentuknya sederhana, warnanya cenderung netral, dan tampilannya cukup "aman" untuk masuk kantor tanpa terlihat seperti baru pulang olahraga.

Namun popularitasnya bukan sekadar soal mode. Ada perubahan budaya yang jauh lebih besar di baliknya.

Salah satu titik balik terjadi ketika industri teknologi mulai mendominasi ekonomi global. Tokoh-tokoh seperti Bill Gates dan Steve Jobs secara tidak langsung mengubah cara publik memandang profesionalisme.

Jobs misalnya, hampir selalu tampil dengan kombinasi turtleneck hitam, jeans, dan sneakers. Ia membangun salah satu perusahaan paling berpengaruh di dunia tanpa mengikuti standar berpakaian eksekutif korporat yang berlaku saat itu.

Pesan yang muncul sederhana: kemampuan lebih penting daripada penampilan formal.

Generasi berikutnya bahkan melangkah lebih jauh. Mark Zuckerberg membangun Facebook dengan kaus abu-abu sebagai identitasnya. Para pendiri startup Silicon Valley membuat dunia menyadari bahwa seseorang bisa memimpin perusahaan bernilai miliaran dolar tanpa harus mengenakan jas setiap hari.

Perubahan itu kemudian merembet ke mana-mana.

Batas antara kantor, kafe, coworking space, dan ruang publik semakin kabur. Banyak pekerjaan kini bisa dilakukan dari hampir lokasi mana pun. Orang tidak lagi membutuhkan pakaian yang berbeda untuk setiap aktivitas dalam sehari.

Muncullah kebutuhan akan satu jenis alas kaki yang bisa dipakai ke mana saja.

Masuk akal jika dress sneakers kemudian menjadi jawaban.

Di sisi lain, industri fashion juga membaca perubahan ini dengan cepat. Merek-merek premium mulai menghadirkan sneakers kulit minimalis yang terlihat cukup elegan untuk dipadukan dengan blazer. Dari sana lahir kategori yang kini dikenal sebagai dress sneakers modern.

Indonesia tidak berbeda.

Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya, semakin banyak profesional muda yang datang ke kantor memakai sneakers. Bukan karena mereka tidak mampu membeli pantofel, melainkan karena kenyamanan kini menjadi bagian dari gaya hidup.

Bagi generasi milenial dan Gen Z, profesionalisme tidak lagi diukur dari seberapa kaku seseorang berpakaian. Yang lebih penting adalah kemampuan bekerja, kreativitas, dan hasil yang diberikan.

Pantofel tentu belum punah. Masih ada ruang untuk acara formal, pertemuan penting, atau lingkungan kerja yang konservatif. Namun posisinya tidak lagi sekuat dulu.

Karena sebenarnya yang sedang kita saksikan bukan sekadar pergantian tren sepatu.

Ini adalah tanda bahwa dunia kerja sedang berubah. Formalitas tidak lagi menjadi simbol utama kesuksesan. Dan di tengah perubahan itu, sepasang dress sneakers diam-diam menjadi lambang era profesional modern: lebih fleksibel, lebih santai, tetapi tetap ingin terlihat serius.

Posting Komentar