AI Makin Pintar, Warga Indonesia Jadi yang Paling Khawatir Soal Masa Depan Kerja
Kalau belakangan kamu sering lihat AI bikin gambar, nulis artikel, bikin presentasi, sampai bantu ngoding, ternyata ada banyak orang yang mulai bertanya satu hal yang sama: "Jangan-jangan nanti kerjaan gue juga diganti AI?"
Ternyata kekhawatiran itu bukan cuma obrolan di media sosial.
Lembaga riset global Ipsos dalam laporan Predictions Report 2026 menemukan bahwa mayoritas masyarakat dunia mulai cemas terhadap dampak kecerdasan buatan terhadap dunia kerja. Dari survei yang melibatkan lebih dari 23 ribu responden di 30 negara, sebanyak 67 persen responden percaya AI akan menyebabkan banyak pekerjaan menghilang.
Angka itu bahkan naik dibanding tahun sebelumnya.
Yang menarik, Indonesia berada di posisi paling atas dalam daftar negara yang paling khawatir soal ancaman AI terhadap pekerjaan. Sebanyak 76 persen responden Indonesia mengaku cemas bahwa perkembangan teknologi ini bisa membuat banyak profesi tidak lagi dibutuhkan.
Indonesia berbagi posisi pertama dengan Singapura yang juga mencatat angka 76 persen.
Di bawah keduanya ada Kolombia, Turki, dan Prancis dengan tingkat kekhawatiran mencapai 73 persen. Malaysia, Afrika Selatan, Australia, Peru, dan Britania Raya melengkapi daftar 10 besar.
Kenapa banyak orang takut?
Jawabannya sebenarnya cukup masuk akal. Dalam beberapa tahun terakhir, AI berkembang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang. Dulu AI hanya bisa menjawab pertanyaan sederhana. Sekarang AI sudah mampu membuat desain, menerjemahkan bahasa, menulis laporan, menganalisis data, membuat video, bahkan membantu pekerjaan yang sebelumnya dianggap hanya bisa dilakukan manusia.
Profesi yang banyak bergantung pada pekerjaan rutin dan administratif menjadi yang paling sering disebut berisiko terdampak otomatisasi.
Tapi cerita soal AI sebenarnya tidak sesederhana "manusia versus mesin".
Sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap revolusi teknologi selalu menghilangkan sebagian pekerjaan lama sekaligus menciptakan pekerjaan baru. Saat internet muncul, banyak profesi berubah. Saat smartphone hadir, industri baru bermunculan. Kemungkinan besar AI juga akan mengikuti pola yang sama.
Masalahnya, perubahan kali ini terjadi jauh lebih cepat.
Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar melawan AI, melainkan belajar bekerja bersama AI. Orang yang memahami cara memanfaatkan teknologi baru kemungkinan akan memiliki peluang lebih besar dibanding mereka yang memilih mengabaikannya.
Jadi, apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia?
Sebagian mungkin iya.
Semua pekerjaan? Jelas tidak.
Yang lebih mungkin terjadi adalah AI mengambil tugas-tugas tertentu, sementara manusia yang mampu beradaptasi akan berpindah ke peran baru yang membutuhkan kreativitas, penilaian, empati, dan kemampuan mengambil keputusan yang belum bisa sepenuhnya digantikan mesin.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia kerja.
Pertanyaannya adalah seberapa siap kita menghadapi perubahan itu.

Posting Komentar