3M dari Yogyakarta: Bukan Sekadar Tata Kota, Tapi Cara Baru Memandang Sungai

Daftar Isi

 




YOGYAKARTA- Di banyak kota di Indonesia, sungai sering bernasib sama. Dibangun rumah di kanan kirinya, dijadikan tempat buang sampah, lalu disalahkan ketika banjir datang. Hubungan manusia dengan sungai sering kali terasa seperti hubungan yang renggang dan penuh masalah.

Karena itu, menarik ketika Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Fahri Hamzah, mengusulkan agar konsep penataan kawasan bantaran sungai "3M" dari Yogyakarta dijadikan model nasional.

Gagasan itu muncul saat Fahri meninjau kawasan Kampung Lampion Code 18 dan Giwangan, Yogyakarta, pada akhir Mei 2026. Menurutnya, konsep "mundur, munggah, madhep kali" layak menjadi identitas khas Yogyakarta sekaligus referensi bagi kota-kota lain yang menghadapi persoalan permukiman padat di tepi sungai.

Sekilas, konsep 3M terdengar sederhana.

Mundur berarti bangunan tidak berdiri terlalu dekat dengan bibir sungai. Munggah berarti membangun secara vertikal ketika lahan semakin terbatas. Sedangkan madhep kali berarti rumah dan lingkungan diarahkan menghadap sungai.

Tapi kalau dipikir lebih jauh, 3M sebenarnya bukan cuma soal bangunan.

Konsep ini menawarkan cara pandang baru tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam.

Prinsip mundur mengajarkan bahwa tidak semua ruang harus dikuasai manusia. Selama ini kota-kota tumbuh dengan logika ekspansi. Sedikit ada lahan kosong langsung dibangun. Akibatnya sungai kehilangan ruang geraknya. Dalam konteks ini, mundur bukan berarti kalah. Justru menunjukkan kesadaran bahwa alam juga punya hak atas ruang.

Lalu ada munggah. Di tengah pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan, solusi tidak selalu harus memperluas kota. Kadang yang dibutuhkan adalah memanfaatkan ruang yang sudah ada dengan lebih cerdas. Membangun ke atas menjadi simbol kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan tanpa terus mengorbankan lingkungan.

Bagian paling menarik ada pada madhep kali.

Selama bertahun-tahun banyak rumah membelakangi sungai. Akibatnya sungai diperlakukan seperti halaman belakang yang kotor dan tidak penting. Ketika rumah-rumah menghadap sungai, hubungan itu berubah. Sungai menjadi bagian depan kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang dilihat, diperhatikan, dan lebih mungkin dijaga.

Di era ketika isu lingkungan semakin sering dibicarakan, konsep 3M terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu harus berarti menaklukkan alam. Kadang pembangunan terbaik justru lahir ketika manusia mau menghormati batas, beradaptasi dengan kondisi, dan membangun kembali kedekatan dengan lingkungan sekitarnya.

Mungkin itulah alasan mengapa Fahri Hamzah melihat konsep ini punya potensi menjadi model nasional. Sebab yang ditawarkan Yogyakarta bukan hanya cara menata rumah di bantaran sungai, tetapi juga cara menata hubungan manusia dengan alam yang selama ini sering terlupakan.

Posting Komentar