WFH ASN: Hemat BBM, Tapi Seberapa Besar Sih Dampaknya?

Daftar Isi

Kebijakan work from home (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN) yang mulai diterapkan pemerintah sebagai bagian dari program penghematan energi sempat menimbulkan pro dan kontra. Banyak yang bertanya, apakah benar WFH bisa menghemat bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan, atau hanya sekadar kebijakan simbolis?

Secara logika, WFH memang mengurangi mobilitas karena pegawai tidak perlu berangkat dan pulang kantor. Artinya, konsumsi BBM dari kendaraan pribadi otomatis turun. Namun jika dihitung dalam skala nasional, dampaknya ternyata tidak terlalu besar. Berdasarkan analisis ekonom energi yang dikutip dari laporan Detik Finance dan CNBC Indonesia pada 2026, penerapan WFH satu hari per minggu diperkirakan hanya menurunkan konsumsi BBM nasional sekitar 0,5 hingga 1,5 persen.

Kenapa kecil? Karena konsumsi BBM terbesar di Indonesia bukan dari pegawai kantoran, melainkan dari truk logistik, kendaraan barang, angkutan umum, sektor industri, dan kendaraan komersial. Jadi meskipun ASN dan pekerja kantoran berhenti berkendara satu hari, konsumsi BBM nasional tetap didominasi sektor lain yang tetap berjalan setiap hari.

Meski begitu, bukan berarti WFH tidak berdampak sama sekali. Dalam simulasi kebijakan efisiensi energi, penggunaan BBM untuk transportasi pegawai bisa turun hingga sekitar 20 persen pada hari WFH. Selain itu, penggunaan listrik gedung perkantoran, operasional kendaraan dinas, hingga biaya transportasi pegawai juga ikut turun. Pemerintah bahkan memperkirakan efisiensi anggaran dari kebijakan energi, termasuk WFH, bisa mencapai triliunan rupiah per tahun.

Jadi, WFH sebenarnya bukan solusi utama untuk menghemat BBM nasional. Dampaknya kecil, tapi tetap ada. Lebih tepat disebut sebagai langkah efisiensi tambahan. Kalau dilakukan rutin dan dibarengi kebijakan lain seperti transportasi umum dan kendaraan listrik, barulah dampaknya bisa terasa lebih besar.

Posting Komentar