Menggugat Kesuksesan Ala Meritokrasi, Bukan Soal Rajin Atau Malas

Daftar Isi


Beberapa waktu yang lalu ada postingan viral beberapa orang yang sukses secara finansial dalam usia yang relatif muda. Entah mereka sadari atau tidak, sebenarnya mereka telah merendahkan kita melalui ucapan-ucapannya yang sok nasehatin kita-kita yang di masa yang gak baik-baik aja ini, yang bisa bertahan hidup aja udah disyukurin banget. Diperparah dengan kebiasaan flexing mereka.

Mereka bilang kita-kita ini gak sukses alias miskin karena gak mau kerja keras, gak rajin, gak cerdas. Padahal secara faktanya bertentangan dengan yang mereka bilang, apa yang mereka nasehatkan itu tidak realistis, baik secara sosial budaya, filosofis bahkan secara biologis.

Bukan, samasekali gak bermaksud bilang ketiga hal itu tidak penting loh, sangat penting malah, tapi ada aspek lain yang juga sangat menentukan.

Contoh simpelnya nih, klo 2-3 dekade yang lalu, orang begaji 2 jutaan aja bisa beli rumah. Sekarang orang yang gaji 10 jutaan aja susah payah, jungkir balik guling guling ampek membanting banting tulang supaya bisa beli rumah, itupun rumah kecil yang sederhana.

Apa yang mereka bilang itu berakar dari konsep meritokrasi, konsep yang telah membuat peradaban manusia setimpang ini. Yang kaya jadi semakin kaya, yang miskin ya tetap saja miskin klo bukan makin miskin.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di majalah The Atlantic minggu yang lalu, Michael Sandel, praktisi dan akademisi dari Harvard University menjelaskan bahwa meritokrasi menciptakan delusi keadilan: yang sukses merasa pantas atas keberhasilannya, sementara yang gagal dianggap layak disalahkan. Ini yang bikin dua-duanya sama-sama terjebak. Ironisnya jadi sama-sama kalah.

Yang kaya hidup dalam tekanan untuk terus membuktikan diri, takut jatuh karena merasa semua hasil usahanya sendiri. Sehingga cenderung menghalalkan segala cara. Sementara yang miskin menanggung beban psikologis, seolah kegagalannya murni karena kurang usaha, padahal sistemnya memang gak netral, gak adil.

Jika dilihat dari perspektif bioevolusi, meritokrasi bukan sesuatu yang benar-benar baru. Ia hanya versi modern dari mekanisme lama: kompetisi untuk bertahan dan berkembang. Dalam dunia biologis, individu yang paling mampu beradaptasi dengan lingkungannya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Prinsip ini dikenal sebagai Natural Selection.

Sebelum masuk lebih jauh, kita sepakati dulu apa yang dimaksud dengan meritokrasi. Secara sederhana, meritokrasi adalah sistem sosial di mana posisi dan peluang ditentukan oleh "merit", yang biasanya diartikan sebagai kombinasi kemampuan, kecerdasan, dan kerja keras.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Young melalui bukunya The Rise of the Meritocracy pada 1958. Menariknya, istilah ini awalnya bukanlah pujian, melainkan sindiran terhadap masyarakat yang terlalu percaya bahwa pengukuran kemampuan individu bisa menghasilkan keadilan. Dalam narasi Young, meritokrasi justru melahirkan ketimpangan baru yang terasa sah karena dibungkus logika prestasi.

Dalam kerangka bioevolusi, "merit" bisa dipahami sebagai kapasitas adaptif. Bukan sekadar kecerdasan atau kerja keras, tetapi keseluruhan kemampuan untuk membaca lingkungan, memanfaatkan peluang, dan bertahan dalam tekanan. Pada spesies lain, ini bisa berupa kekuatan fisik, kecepatan, atau kemampuan berburu. Pada manusia, bentuknya jauh lebih kompleks: pendidikan, keterampilan kognitif, jaringan sosial-politik, hingga stabilitas emosional.

Masalahnya, evolusi tidak pernah menjanjikan keadilan.

Seleksi alam bekerja tanpa mempertimbangkan moralitas. Ia tidak peduli siapa yang "layak" atau "tidak layak". Yang bertahan bukan yang paling baik secara etis, tetapi yang paling cocok dengan kondisi tertentu. Dalam konteks ini, meritokrasi modern sering keliru karena menganggap hasil kompetisi sebagai sesuatu yang adil secara moral, padahal secara biologis, itu hanya hasil dari proses seleksi yang kebetulan menguntungkan sebagian pihak.

Selain itu, evolusi juga sangat bergantung pada faktor awal. Individu yang lahir dengan kondisi genetik lebih baik atau dalam lingkungan yang lebih mendukung memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Ini paralel dengan realitas sosial: privilese akses terhadap nutrisi, pendidikan, dan lingkungan kerja sejak dini sangat menentukan kapasitas seseorang di masa depan.

Artinya, apa yang kemudian disebut sebagai "prestasi individu" sering kali merupakan akumulasi dari banyak faktor yang berada di luar kendali individu itu sendiri.

Ada juga aspek lain yang sering diabaikan: manusia adalah spesies sosial. Keberhasilan kita sebagai spesies tidak hanya ditentukan oleh kompetisi, tetapi juga oleh kerja sama. Dalam banyak studi evolusi, kemampuan untuk berkolaborasi, berbagi sumber daya, dan membangun kepercayaan justru menjadi kunci dominasi manusia di planet ini.

Dari sudut pandang ini, meritokrasi yang terlalu menekankan kompetisi individual bisa dianggap menyederhanakan sifat dasar manusia. Ia mengabaikan bahwa keberhasilan individu sering kali bergantung pada sistem kolektif yang menopangnya.

Lebih jauh lagi, dalam masyarakat modern, "lingkungan seleksi" tidak netral. Ia dibentuk oleh institusi, kebijakan, dan struktur ekonomi. Ini berbeda dengan alam liar yang relatif tidak dirancang. Dalam sistem sosial, aturan permainan bisa dibuat dan diubah oleh kelompok tertentu. Akibatnya, apa yang dianggap sebagai "merit" sering kali selaras dengan kepentingan mereka yang sudah berada di atas.

Dalam bahasa evolusi, ini mirip dengan niche construction, di mana organisme mengubah lingkungannya sendiri untuk meningkatkan peluang bertahan hidupnya. Pada manusia, kelompok elite bisa membentuk sistem pendidikan, standar seleksi, dan definisi keberhasilan yang menguntungkan mereka.

Di sini terlihat jelas bahwa meritokrasi bukan sekadar refleksi dari kemampuan alami, tetapi juga hasil dari lingkungan yang sudah dikondisikan.

Dari perspektif bioevolusi, meritokrasi bukan sistem yang menjamin keadilan, melainkan mekanisme seleksi dalam bentuk sosial. Ia mencerminkan kompetisi, tetapi juga dipengaruhi oleh warisan awal dan struktur lingkungan. Menganggapnya sebagai sistem yang objektif berarti mengabaikan fakta bahwa, seperti dalam evolusi, hasil akhir sering kali lebih ditentukan oleh kondisi awal dan konteks daripada semata-mata usaha individu.

Lantas, solusi untuk keluar dari jebakan meritokrasi ini apa?

Pertama, perlu ada keberanian untuk mengakui bahwa hasil hidup seseorang tidak pernah murni ditentukan oleh usaha pribadi. Ada faktor keberuntungan, akses, dan kondisi awal yang tidak merata. Kesadaran ini penting, bukan menafikan kerja keras, tapi untuk menghentikan kebiasaan menyederhanakan realitas jadi sekadar "yang sukses pasti pantas, yang gagal pasti malas".

Kedua, perlu pergeseran cara pandang dari kompetisi murni ke keseimbangan antara kompetisi dan solidaritas. Dalam kerangka evolusi, manusia bertahan bukan karena saling mengalahkan terus-menerus, tapi karena mampu bekerja sama. Sistem sosial yang terlalu menekankan ranking individu cenderung mengikis fungsi kolektif ini.

Maka, memperkuat akses pendidikan, kesehatan, dan jaring pengaman sosial bukan sekadar kebijakan ekonomi, tapi cara mengoreksi ketimpangan awal yang menentukan "garis start" tiap orang.

Ketiga, redefinisi "merit" itu sendiri. Selama ini, merit sering direduksi jadi skor akademik, produktivitas, atau capaian finansial. Padahal kontribusi sosial, kemampuan merawat relasi, hingga kerja-kerja yang tidak terlihat seperti pengasuhan juga punya nilai yang nyata bagi keberlangsungan masyarakat.

Jika definisi merit tetap sempit, maka sistem akan terus menguntungkan tipe individu tertentu dan mengabaikan yang lain.

Keempat, transparansi dalam bagaimana sistem bekerja. Banyak orang percaya meritokrasi karena prosesnya terlihat objektif, padahal kriteria dan mekanismenya sering kali tidak netral. Ketika standar seleksi, rekrutmen, atau promosi dibuka dan diuji secara kritis, akan terlihat bahwa ada bias yang selama ini dianggap wajar. Dari situ, koreksi bisa dilakukan, bukan sekadar menerima keadaan sebagai sesuatu yang "alami".

Pada level individu, mungkin yang paling realistis bukan keluar sepenuhnya dari sistem, tapi memahami batasannya. Bekerja keras tetap perlu, mengembangkan kemampuan tetap penting, tapi tanpa ilusi bahwa semua orang bermain di medan yang sama. Kesadaran ini bisa menjaga orang tetap waras: yang berhasil tidak jadi arogan, yang belum berhasil tidak hancur secara mental.

Solusi dari jebakan meritokrasi bukan menghapus kompetisi, tapi menempatkannya dalam konteks yang lebih fair. Bahwa kehidupan ini bukan lomba lari dengan garis start yang sejajar, dan bukan pula permainan yang aturannya netral untuk semua orang.

 

 


Posting Komentar