Kota Bekasi Ngegas: Jaringan Komunikasi Bawah Tanah Menuju Smart City

Daftar Isi
Konsep infrastruktur bawah tanah Kota Singapura (Urban Redevelopment Authority Singapore)

Kota modern hari ini bukan cuma soal gedung tinggi atau jalan lebar, tapi soal “urat saraf” digital yang bekerja di balik permukaan. Di sinilah jaringan komunikasi bawah tanah masuk sebagai game changer. Infrastruktur ini jadi fondasi penting buat kota yang mau serius masuk ke ekosistem smart city, di mana semua layanan saling terkoneksi, cepat, dan minim gangguan.

Kalau ditarik ke belakang, konsep menanam kabel sebenarnya sudah ada sejak abad ke-19, saat telegraf mulai berkembang. Tujuannya sederhana: melindungi jaringan dari cuaca dan gangguan eksternal. Lalu masuk era telepon dengan kabel tembaga di abad ke-20, sampai akhirnya dunia beralih ke serat optik di akhir abad tersebut. Di titik ini, kapasitas dan kecepatan data melonjak drastis, dan jaringan bawah tanah berubah dari sekadar opsi jadi kebutuhan utama.

Sekarang, levelnya sudah naik lagi. Banyak kota mulai pakai konsep smart ducting, yaitu jalur kabel yang bisa dimonitor real-time lewat sensor. Ini penting buat menopang sistem kota cerdas: dari lampu lalu lintas pintar, CCTV, sampai perangkat Internet of Things (IoT) yang semuanya butuh koneksi stabil tanpa putus.

Kota seperti Tokyo dan Singapura sudah lama main di level ini. Mereka nggak cuma menanam kabel, tapi juga bikin sistem bawah tanah yang rapi, terintegrasi, dan gampang dirawat. Hasilnya jelas: kota lebih bersih secara visual, dan sistem digitalnya jalan tanpa banyak drama.

CST (Common Services Tunnel), yang ukurannya sebesar dua terowongan MRT, menampung kabel telekomunikasi, saluran listrik, serta pipa air dan pipa pengangkut sampah pneumatik (Marina Bay Urban Redevelopment Authority Singapore)

Di Indonesia, Jakarta mulai ikut arah yang sama. Penataan kabel lewat ducting bawah tanah sudah berjalan di beberapa ruas utama. Selain bikin kota lebih enak dilihat, ini juga jadi pondasi buat layanan digital yang lebih stabil. Tapi ya, tantangannya masih klasik: biaya mahal, koordinasi ribet, dan ruang bawah tanah yang sudah padat.

Nah, di titik ini, Bekasi mulai tancap gas. Kota penyangga ini punya masalah yang sama: kabel udara semrawut, risiko gangguan tinggi, dan kebutuhan digital yang makin besar. Tapi sekarang, arahnya sudah mulai jelas.

Di bawah kepemimpinan Tri Adhianto, Pemkot Bekasi mulai serius membangun jaringan bawah tanah lewat kerja sama dengan pihak swasta. Percepatan ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama investasi antara PT Mitra Patriot (Perseroda) dan PT Infrastruktur Cerdas Nusantara (ICN) di Hotel Santika Bekasi Hypermall, Senin, 20 April 2026.

Pemkot Bekasi saat peresmian kerjasama pembangunan infrastruktur jaringan komunikasi bawah tanah (Pemkot Bekasi)

Skalanya nggak kecil. Proyek ini akan menggarap sekitar 168 ruas jalan dengan total panjang jaringan mencapai 290 kilometer. Waktu pengerjaannya dipatok empat tahun, dengan masa kerja sama hingga 20 tahun. Artinya, ini bukan proyek tambal-sulam, tapi langkah jangka panjang buat merombak fondasi infrastruktur kota.

Kalau ditanya untungnya, jelas banyak. Jaringan jadi lebih stabil karena aman dari cuaca dan gangguan luar. Kota juga terlihat lebih rapi tanpa kabel semrawut. Dalam jangka panjang, biaya maintenance bisa lebih efisien karena gangguan lebih jarang.

Tapi bukan tanpa minus. Biaya awal besar, proses pembangunan kompleks, dan kalau rusak, perbaikannya butuh waktu karena harus bongkar dulu. Belum lagi urusan koordinasi dengan utilitas lain seperti pipa air dan listrik yang sama-sama “numpang” di bawah tanah.

Meski begitu, arah yang diambil Bekasi ini cukup jelas: membangun fondasi buat smart city yang serius, bukan sekadar jargon. Kalau eksekusinya konsisten, dampaknya bisa luas, mulai dari layanan publik yang lebih responsif, sistem transportasi yang lebih efisien, sampai ekosistem ekonomi digital yang lebih hidup.

Singkatnya, ini bukan cuma soal mindahin kabel ke bawah tanah. Ini soal bagaimana Bekasi menyiapkan diri buat jadi kota yang lebih terhubung, lebih rapi, dan lebih siap menghadapi tuntutan era digital.

Posting Komentar