Kota Bekasi Nanjak ke Top 5 Kota Paling Toleran Se-Indonesia
![]() |
| Humas Pemkot Bekasi |
Ada satu hal lagi yang cukup menarik dari Kota Bekasi. Kota yang sering kena stereotip “keras” ini justru lagi nunjukin sisi lain: makin toleran. Dalam rilis terbaru Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 dari SETARA Institute, Bekasi tembus peringkat lima nasional dengan skor 6,037.
Angka ini bukan sekadar kosmetik statistik. Tahun sebelumnya, Bekasi masih di posisi tujuh. Artinya ada pergeseran yang cukup signifikan, bukan lonjakan kebetulan. Ada sesuatu yang lagi “dibenerin” di level sosial.
Pengumuman ini disampaikan dalam acara launching dan awarding IKT di Jakarta, Rabu, 22 April 2026. Di situ, Bekasi masuk jajaran kota dengan performa toleransi terbaik di Indonesia. Buat kota penyangga ibu kota yang padat, kompleks, dan penuh tekanan urban, ini bukan pencapaian ringan.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, melihat ini sebagai hasil kerja bareng. Bukan cuma pemerintah, tapi juga masyarakat yang ikut jaga suasana tetap adem.
Dia cukup tegas soal satu hal: toleransi itu bukan slogan. Bukan sekadar bahan pidato atau jargon spanduk. Tapi sesuatu yang harus kejadian di kehidupan sehari-hari, dari level paling kecil.
Kalau ditarik lebih dalam, konteksnya menarik. Bekasi itu kota dengan tingkat heterogenitas tinggi. Perpindahan penduduk masif, latar belakang budaya beda-beda, agama beragam. Secara teori sosial, kondisi kayak gini rawan gesekan. Tapi justru di situ ujiannya.
IKT sendiri mengukur beberapa indikator penting, mulai dari regulasi pemerintah daerah, tindakan aparat, sampai dinamika sosial di masyarakat. Jadi kalau skor naik, itu berarti ada perbaikan lintas aspek, bukan cuma satu sisi.
Tri juga gak mau terlena. Posisi lima besar dianggap bukan garis finish. Justru ini kayak checkpoint yang bikin ekspektasi naik.
Logikanya sederhana: makin tinggi posisi, makin besar sorotan. Bekasi sekarang bukan cuma dinilai, tapi juga bisa jadi referensi buat kota lain. Itu berarti standar yang harus dijaga juga makin tinggi.
Di sisi lain, ini juga jadi refleksi bahwa wajah kota itu bisa berubah. Narasi tentang Bekasi yang keras, padat, dan penuh tekanan urban, sekarang mulai diimbangi dengan narasi lain: kota yang belajar mengelola perbedaan.
Pemerintah Kota Bekasi sendiri berharap momentum ini gak berhenti di angka dan peringkat. Targetnya lebih dalam, yaitu bikin toleransi benar-benar “ngakar”. Bukan cuma muncul saat ada penilaian, tapi jadi bagian dari kultur.
Kota bukan cuma soal infrastruktur dan pembangunan fisik. Tapi juga soal bagaimana orang-orang di dalamnya hidup bareng tanpa saling mengganggu, bahkan bisa saling menghargai. Dan kalau Bekasi bisa konsisten di jalur ini, dia bukan cuma naik peringkat. Tapi juga pelan-pelan redefinisi identitasnya sendiri.

Posting Komentar