Gak Cuma Biar Gak Haus: Air Putih Ternyata Punya Efek ke Fokus dan Performa

Daftar Isi
Ilustrasi proses hidrasi (Foto Istimewa)

Selama ini, kalau ngomongin air mineral, pembahasannya hampir selalu berhenti di satu hal: hidrasi. Logikanya sederhana, selama tubuh cukup cairan, otak aman, energi stabil, dan aktivitas bisa jalan tanpa hambatan.

Itu memang benar, tapi sekarang ceritanya mulai lebih kompleks.

Riset terbaru di bidang nutrisi dan fisiologi mulai melihat air bukan sekadar “pengisi ulang” cairan tubuh. Ada lapisan lain yang ikut bermain, mulai dari respons sensorik sampai efek kecil di level metabolisme.

Menariknya, sebagian temuan ini datang dari dunia yang dekat dengan keseharian Gen Z: gaming.

Sebuah studi yang terbit tahun 2026 di jurnal Computers in Human Behavior Reports, dikembangkan dari eksperimen sejak 2023–2024 oleh tim dari University of Tsukuba, mencoba menguji hal ini dalam konteks e-sports. Alasannya jelas: gaming kompetitif butuh fokus tinggi, reaksi cepat, dan stamina mental dalam waktu lama.

Metodenya cukup straight to the point. Peserta dibagi berdasarkan jenis minuman: air putih, sparkling water, dan dalam beberapa skenario, minuman berkafein sebagai pembanding. Selama sesi, peneliti mengukur reaction time, akurasi, dan tingkat kewaspadaan yang dirasakan.

Hasil utamanya nggak mengejutkan: cukup minum tetap jadi fondasi. Peserta yang terhidrasi dengan baik tampil lebih stabil dibanding yang dehidrasi.

Tapi detailnya yang menarik.

Sparkling water, dalam beberapa parameter, menunjukkan performa sedikit lebih baik dibanding air biasa, terutama di aspek kewaspadaan dan kecepatan reaksi. Selisihnya kecil, tapi polanya konsisten.

Penjelasannya bukan karena energi tambahan, tapi efek karbonasi.

Gelembung dalam sparkling water memicu rangsangan di mulut dan saluran pencernaan. Sensasi ini memberi “kick” ringan ke sistem saraf, cukup untuk meningkatkan alertness dalam jangka pendek. Dalam aktivitas repetitif seperti gaming atau kerja lama di depan layar, efek kecil ini bisa membantu menjaga fokus tetap tajam.

Belum selesai di situ.

Penelitian lain oleh Akira Takahashi, dipublikasikan Januari 2025 di BMJ Nutrition, Prevention & Health, mencoba melihat apa yang terjadi di dalam tubuh setelah minum sparkling water.

Titik berangkatnya cukup unik, yaitu observasi dari prosedur medis hemodialisis, di mana darah terpapar karbon dioksida (CO₂) dan menunjukkan perubahan pada kadar glukosa.

Dari situ muncul hipotesis: apakah CO₂ dalam air berkarbonasi bisa memicu efek serupa?

Hasilnya menunjukkan bahwa CO₂ dari sparkling water bisa diserap melalui lambung, masuk ke aliran darah, lalu diubah menjadi bikarbonat di dalam sel darah merah. Proses ini memengaruhi keseimbangan pH dan sedikit mempercepat glikolisis, yaitu proses tubuh mengubah glukosa jadi energi.

Efeknya kecil, tapi terukur. Ada dorongan ringan dalam efisiensi penggunaan energi di tingkat sel.

Kalau dikaitkan dengan performa, ini memberi konteks tambahan. Sensasi “segar” setelah minum sparkling water bukan cuma soal rasa di mulut, tapi juga ada proses biologis kecil yang ikut bermain.

Meski begitu, skalanya tetap terbatas. Efek ini nggak akan menggantikan hal-hal yang lebih besar seperti tidur cukup, pola makan, atau kondisi fisik secara umum.

Ilustrasi infused sparkling water (Freepik)

Kalau dua riset ini digabung, gambarnya jadi lebih utuh: air bukan cuma soal cukup atau tidak cukup. Jenis air juga bisa memberi pengalaman dan efek yang sedikit berbeda, tergantung situasi.

Dalam kondisi tertentu, seperti kerja panjang, belajar intens, atau sesi gaming berjam-jam, sparkling water bisa jadi opsi tambahan untuk bantu jaga fokus. Bukan pengganti air putih, tapi variasi yang masuk akal.

Realitanya tetap sederhana: air putih paling mudah diakses dan paling ekonomis, itu baseline yang nggak tergantikan.

Tapi kalau butuh dorongan ekstra di momen tertentu, misalnya sebelum presentasi, ujian, atau wawancara, sparkling water bisa dicoba.

Kalau mau sekalian dinaikkan levelnya: tambahkan irisan lemon, leci, atau stroberi. Bukan cuma lebih enak, tapi juga bikin pengalaman minumnya nggak monoton.

Oiya, selain itu, dalam riset yang lain, sparkling water bagus juga buat program diet karena menimbulkan sensasi rasa kenyang.

Catatan:

Sparkling water adalah air yang mengandung karbon dioksida (CO₂) terlarut sehingga menghasilkan sensasi bergelembung saat diminum. Gas ini bisa berasal dari sumber alami (air mineral berkarbonasi alami) atau air yang sengaja diinjeksikan dengan gas CO2. Rasanya cenderung netral, kadang sedikit asam karena reaksi CO₂ dengan air membentuk asam karbonat (H2CO3).

Pada dasarnya sparkling water adalah air soda, tapi tanpa penambahan apapun. Air soda umumnya merujuk pada minuman berkarbonasi yang telah ditambahkan zat lain, seperti gula, pemanis buatan, perisa, atau natrium bikarbonat. Jadi, semua air soda bergelembung, tetapi sparkling water tidak mengandung tambahan lain selain gas karbon dioksida.


Posting Komentar