Di Balik Ledakan Populasi Sapu-Sapu, Ada Krisis Lingkungan yang Lebih Besar
![]() |
| Operasi penangkapan ikan sapu-sapu di DKI Jakarta, pada Jumat 17 April 2026. (Foto: Diskominfotik DKI) |
Pemprov DKI Jakarta lagi serius nanganin ledakan ikan sapu-sapu di sungai. Salah satu langkah yang mulai didorong: penangkapan massal. Di permukaan, ini kelihatan masuk akal. Populasi banyak, ya dikurangin. Tapi kalau dilihat dari kacamata biologi lingkungan, ceritanya nggak sesederhana itu.
Ikan sapu-sapu, atau Plecostomus, bukan ikan biasa. Ini spesies invasif yang “tahan banting”. Air kotor, oksigen rendah, tetap hidup. Justru kondisi sungai urban kayak di Jakarta jadi habitat ideal buat mereka berkembang tanpa banyak saingan.
Masalahnya bukan cuma jumlah. Dalam kajian Ecology, ikan ini masuk kategori “ecosystem engineer”. Artinya, dia bukan cuma numpang hidup, tapi ikut ngerombak lingkungan. Mereka bikin lubang di tebing sungai, yang ujungnya mempercepat erosi. Di sisi lain, mereka makan alga dan detritus dalam jumlah besar, yang bisa ganggu keseimbangan rantai makanan dasar.
Kalau lihat kasus di luar, polanya mirip. Di Florida sejak awal 2000-an, pleco terbukti mempercepat kerusakan tebing sungai. Di Meksiko, riset tahun 2010-an nunjukin satu spesies ini bisa mendominasi biomassa ikan di sungai. Sementara di Filipina, khususnya Laguna de Bay, dalam satu dekade terakhir, ledakan populasi sapu-sapu berkorelasi kuat dengan kondisi air yang eutrofik dan miskin oksigen.
Nah, di sini mulai kelihatan problemnya. Penangkapan massal tanpa perbaikan lingkungan biasanya cuma kasih efek sementara. Populasi turun, tapi nggak lama naik lagi. Dalam banyak studi spesies invasif, ini dikenal sebagai efek “rebound”. Bahkan, tekanan penangkapan bisa bikin populasi jadi lebih cepat berkembang karena yang tersisa justru individu yang adaptif.
Belum lagi soal risiko bycatch. Alat tangkap yang nggak selektif bisa ikut nangkap ikan lokal, larva, sampai organisme kecil yang punya peran penting di ekosistem. Kalau ini kejadian, yang rusak bukan cuma satu spesies, tapi keseluruhan sistem.
Intinya, dominasi ikan sapu-sapu itu lebih mirip gejala daripada akar masalah. Sungai yang penuh limbah, nutrien tinggi, dan oksigen rendah otomatis jadi “rumah ideal” buat mereka. Selama kondisi itu nggak berubah, mau ditangkap sebanyak apa pun, hasilnya bakal balik lagi.
Karena itu, pendekatan yang lebih masuk akal adalah kombinasi: penangkapan tetap ada, tapi dibarengi perbaikan kualitas air, kontrol limbah, dan pemulihan habitat. Dalam konsep Adaptive management, kebijakan kayak gini harus terus dievaluasi dan disesuaikan berdasarkan data lapangan.
Jadi, ini bukan sekadar soal “basmi ikan sapu-sapu”. Ini soal apakah pengelolaan sungai Jakarta mau serius dibenerin, atau cuma berhenti di solusi cepat yang efeknya sebentar.

Posting Komentar