Andi Hakim Nasoetion, Tokoh Low Profile yang Diam-Diam Membentuk Sistem Kampus Indonesia

Daftar Isi

 

Nama Andi Hakim Nasoetion mungkin tidak sepopuler tokoh politik atau tokoh publik di televisi. Tapi kalau kamu pernah kuliah di Indonesia, besar kemungkinan kamu menikmati sistem yang dulu ikut ia rancang. 

Dari sistem SKS, kuliah sarjana empat tahun, sampai jalur masuk tanpa tes, semua itu tidak muncul begitu saja. Ada orang yang memikirkannya secara serius puluhan tahun lalu, dan salah satunya adalah Andi Hakim Nasoetion.

Ia lahir tahun 1932 di Jakarta dan dikenal sebagai ilmuwan statistika yang kemudian menjadi Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) selama dua periode, dari 1978 sampai 1987. Tapi menyebut dia hanya sebagai rektor sebenarnya terlalu kecil. Perannya lebih mirip perancang sistem. Orang yang tidak terlalu terlihat di depan, tapi idenya dipakai semua orang.

Salah satu gagasan besarnya adalah sistem SKS. Dulu, kuliah di Indonesia belum memakai sistem kredit seperti sekarang. Andi Hakim termasuk yang mendorong agar mahasiswa bisa mengambil mata kuliah berdasarkan beban studi, bukan sekadar paket per tahun. Tujuannya supaya pendidikan lebih fleksibel, lebih terukur, dan lebih modern. Sekarang sistem itu jadi standar nasional.

Ia juga ikut mendorong berkembangnya program S2 dan S3 di Indonesia. Pada masa itu, pendidikan pascasarjana belum banyak dan riset belum sekuat sekarang. Ia melihat bahwa kalau Indonesia ingin maju, harus ada tradisi penelitian, bukan hanya tradisi kuliah dan hafalan. Karena itu, ia mendorong kampus menjadi pusat riset, bukan sekadar tempat kuliah.


Yang menarik lagi, ia juga yang menggagas jalur masuk kuliah tanpa tes tertulis, berdasarkan prestasi akademik di sekolah. Dulu namanya USMI di IPB, lalu berkembang menjadi PMDK, dan sekarang kita mengenalnya sebagai jalur undangan atau SNBP. Ide dasarnya sederhana tapi dalam, nilai seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari satu kali ujian. Rekam jejak belajar bertahun-tahun lebih penting daripada satu hari tes.

Di bidang keilmuan, Andi Hakim dikenal sebagai tokoh yang membesarkan ilmu statistika di Indonesia. Tapi ia tidak melihat statistika hanya sebagai angka dan rumus. Ia melihat statistika sebagai cara berpikir. Cara membaca data, cara melihat pola, cara mengambil keputusan dengan logika, bukan dengan perasaan atau asumsi.

Ia juga menulis banyak buku, salah satunya yang cukup terkenal berjudul Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah untuk Remaja. Dari judulnya saja sudah kelihatan, yang ia ajarkan bukan sekadar ilmu, tapi cara berpikir. Ia percaya bahwa pendidikan yang paling penting bukanlah hafalan, tapi kemampuan berpikir jernih dan jujur secara intelektual.

Andi Hakim Nasoetion wafat pada tahun 2002. Namanya memang tidak selalu muncul di berita atau media sosial. Tapi sistem yang ia bangun masih dipakai jutaan mahasiswa Indonesia sampai hari ini. 

Ada orang yang terkenal karena jabatannya. Ada juga orang yang berpengaruh karena idenya dipakai selama dekadean. Andi Hakim Nasoetion jelas masuk kategori yang kedua. Ia tidak hanya mengajar di kampus, ia membantu merancang cara kampus bekerja di Indonesia.

Posting Komentar