Trust di Rumah: Kenapa Ada Remaja yang Terbuka ke Orangtua, Ada yang Memilih Diam

Daftar Isi

Masa remaja itu memang masa yang agak rumit, masa pubertas. Tubuh berubah cepat secara biologis, emosi sering naik turun, dan dunia pergaulan tiba-tiba terasa jauh lebih luas dibanding waktu masih anak-anak. 

Di fase ini, hubungan anak dengan orangtua juga ikut berubah. Ada remaja yang masih gampang cerita ke orangtuanya, dari soal sekolah, teman, sampai masalah pribadinya. Tapi ada juga yang makin tertutup, lebih banyak menyimpan cerita sendiri.

Yang sering menentukan perbedaan itu sebenarnya satu hal sederhana: trust, kepercayaan.

Trust tidak muncul tiba-tiba ketika anak masuk usia remaja. Ia terbentuk pelan-pelan sejak anak masih kecil. Dari pengalaman sehari-hari di rumah, anak belajar apakah rumah itu tempat yang aman untuk bicara, atau justru tempat yang bikin dia merasa selalu dihakimi.

Remaja yang masih terbuka biasanya tumbuh dalam hubungan yang hangat dengan orangtuanya. Anak memang bukan sahabat dalam arti posisi yang sama. Orangtua tetap orangtua, tetap punya tanggung jawab membimbing. Tapi hubungan itu terasa akrab. Ngobrol bisa santai, cerita bisa ngalir, dan anak tidak merasa perlu menyembunyikan banyak hal.

Di sisi lain, anak juga bukan pasukan yang hanya dituntut patuh tanpa boleh bicara. Hormat kepada orangtua justru lebih mudah tumbuh ketika anak merasa dihargai sebagai pribadi yang sedang belajar memahami hidup. Rasa hormat tidak selalu datang dari rasa takut, tapi dari kepercayaan bahwa orangtua memang ingin menjaga dan membimbingnya.



Kalau trust sudah terbentuk, keterbukaan biasanya datang dengan sendirinya. Anak berani cerita, bahkan tentang kesalahan yang dia lakukan. Orangtua mungkin tidak selalu setuju, tapi mereka mau mendengar dulu sebelum memberi nasihat.

Sebaliknya, kalau trust tidak ada, anak biasanya memilih diam. Setiap cerita berubah jadi interogasi. Setiap kesalahan dibalas dengan ceramah panjang. Dalam situasi seperti itu, menyimpan cerita sendiri terasa jauh lebih aman.

Di zaman sekarang, situasinya makin kompleks. Remaja punya banyak tempat lain untuk berbagi cerita. Teman sebaya, komunitas di internet, media sosial. Kalau hubungan dengan orangtua terasa kaku atau menekan, wajar kalau anak lebih memilih bercerita ke luar rumah.

Karena itu, yang sebenarnya perlu dijaga bukan sekadar aturan, tapi trust itu sendiri. Anak tetap butuh batasan, tetap butuh arahan. Tapi dia juga butuh merasa didengar.

Hubungan yang sehat biasanya ada di tengah. Anak tidak diperlakukan seperti teman sebaya yang bebas tanpa arah, tapi juga tidak diperlakukan seperti bawahan yang hanya menerima perintah. Ia dekat dengan orangtuanya, tapi tetap tahu batas dan tetap menghormati.

Kalau suasana seperti itu terbangun, rumah tidak akan terasa seperti tempat yang harus dihindari. Justru menjadi tempat pertama yang dituju anak ketika dia punya cerita. Dan bagi remaja yang sedang belajar memahami dunia, kepercayaan seperti itu sangat berarti.

Posting Komentar