Apa Gunanya Memahami Aturan 1–9–90 di Dalam Peradaban Digital

Daftar Isi

Banyak orang mengira media sosial adalah ruang demokrasi digital, tempat semua orang bisa berbicara dan didengar. Secara teknis memang benar. Namun dalam praktiknya, tidak semua orang berbicara. Sebagian besar justru hanya membaca dan melihat. 

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan baru, tetapi sudah lama diteliti dalam dunia internet dan dikenal sebagai aturan 1–9–90.

Konsep ini dipopulerkan oleh peneliti web usability Jakob Nielsen dari Nielsen Norman Group pada tahun 2006 melalui riset tentang ketimpangan partisipasi di komunitas online. 

Dalam penelitiannya terhadap forum, blog komunitas, dan situs berbasis kontribusi pengguna, Nielsen menemukan pola yang konsisten: sekitar 1 persen pengguna membuat konten, 9 persen berinteraksi melalui komentar atau tanggapan, dan 90 persen lainnya hanya membaca tanpa berpartisipasi aktif. Kelompok terakhir ini dikenal sebagai lurker.

Meskipun riset tersebut dilakukan sebelum ledakan media sosial seperti sekarang, pola yang sama tetap terlihat di berbagai platform modern seperti Instagram, X, TikTok, YouTube, dan Reddit. Artinya, teknologi berubah, tetapi perilaku manusia dalam berpartisipasi di ruang publik digital cenderung tetap sama.

Para peneliti menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pola ini terbentuk. 

Pertama adalah faktor psikologis. Tidak semua orang memiliki dorongan untuk berbicara di ruang publik. Dalam setiap kelompok sosial, selalu ada orang yang aktif berbicara, ada yang sesekali menanggapi, dan ada yang lebih memilih mendengarkan. Fenomena ini sudah ada jauh sebelum internet.

Kedua adalah faktor usaha dan energi. Mengonsumsi informasi jauh lebih mudah daripada memproduksi informasi. Membaca dan melihat hanya membutuhkan waktu, sementara membuat tulisan, foto, atau video membutuhkan ide, keterampilan, waktu, dan kesiapan menerima respons publik. Semakin besar usaha yang dibutuhkan, semakin sedikit orang yang bersedia melakukannya.

Ketiga adalah faktor risiko sosial. Berbicara di internet memiliki risiko, mulai dari kritik, kesalahpahaman, hingga serangan komentar. Jejak digital juga bisa bertahan lama. Karena itu, banyak orang memilih menjadi pengamat saja, tetapi tetap mengikuti informasi.

Menariknya, jika dilihat dari perspektif yang lebih jauh, pola 1–9–90 ini juga bisa dijelaskan dari sudut pandang bioevolusi manusia. 

Sejak zaman manusia hidup dalam kelompok kecil, selalu ada pembagian peran alami. Ada yang memimpin dan berbicara, ada yang menjadi penghubung, dan ada yang lebih banyak mengamati. Kelompok dengan pembagian peran seperti ini lebih stabil dan lebih mampu bertahan. 

Dalam konteks modern, pola tersebut muncul kembali di dunia digital dalam bentuk pembuat konten, penyebar, dan pengamat.

Dalam peradaban digital, struktur ini memiliki dampak besar. Jika hanya sebagian kecil orang yang memproduksi informasi, maka narasi yang beredar di ruang publik digital sangat dipengaruhi oleh kelompok kecil tersebut. Sementara mayoritas masyarakat membentuk pemahaman mereka dari informasi yang mereka lihat setiap hari di layar.

Di sinilah pentingnya memahami aturan 1–9–90. Tanpa pemahaman ini, orang mudah mengira bahwa apa yang sering muncul di media sosial adalah gambaran umum masyarakat. Padahal belum tentu demikian. Media sosial lebih tepat dipahami sebagai panggung tempat sebagian kecil orang tampil, dan sebagian besar lainnya menonton.

Memahami struktur ini membantu kita melihat media sosial secara lebih jernih. Kita tidak mudah menganggap bahwa yang paling ramai adalah yang paling benar, atau yang paling sering muncul adalah yang paling mewakili. 

Dalam peradaban digital, memahami siapa yang berbicara dan siapa yang hanya mendengar menjadi penting, karena dari sanalah opini publik, persepsi sosial, dan bahkan arah masyarakat dapat terbentuk.

Posting Komentar