Amigdala Hijack dan Kekerasan Emosional di Kampus
Kasus pembacokan mahasiswi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau terjadi pada Kamis pagi, 26 Februari 2026, sekitar pukul 08.30 WIB. Insiden berlangsung di Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, saat aktivitas akademik tengah berjalan.
Korban diserang secara tiba-tiba oleh seorang rekan kampus yang datang membawa senjata tajam. Serangan terjadi cepat, memicu kepanikan, dan berakhir setelah pelaku berhasil diamankan. Korban mengalami luka serius dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Penyelidikan awal mengungkap bahwa pelaku dan korban saling mengenal dan memiliki persoalan relasi personal. Motif yang mencuat berkaitan dengan rasa cemburu dan sakit hati. Tidak ditemukan indikasi perencanaan panjang. Kekerasan terjadi dalam kondisi emosional yang memuncak, seolah dipicu oleh satu ledakan sesaat.
Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menjelaskan kondisi ini sebagai amigdala hijack. Amigdala adalah bagian otak yang berfungsi sebagai pusat respons emosional cepat.
Ketika seseorang merasa terancam, bukan secara fisik, tetapi secara emosional, misalnya karena penolakan, kecemburuan, atau rasa kehilangan kendali, amigdala dapat mengambil alih sistem pengambilan keputusan. Respons ini terjadi dalam hitungan milidetik, jauh lebih cepat dibanding proses berpikir rasional.
Menurut Goleman, pada saat amigdala hijack terjadi, korteks prefrontal, bagian otak yang bertugas menimbang konsekuensi, mengendalikan impuls, dan membuat keputusan rasional, mengalami penurunan fungsi sementara.
Inilah sebabnya seseorang dapat melakukan tindakan ekstrem tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Otak berada dalam mode darurat, seolah menghadapi ancaman hidup, padahal pemicunya adalah konflik emosional.
Dalam banyak kasus kekerasan berbasis relasi, seperti yang terjadi di UIN Suska Riau, pemicunya bukan kebencian ideologis atau motif kriminal murni, melainkan emosi personal yang tidak terkelola.
Goleman menekankan bahwa kecerdasan emosional yang rendah membuat seseorang sulit mengenali sinyal awal emosinya sendiri. Ketika rasa marah, cemburu, atau tersinggung tidak disadari sejak awal, emosi itu menumpuk dan mencari jalan keluar dalam bentuk yang paling primitif.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana kegagalan mengelola emosi dapat mengubah konflik personal menjadi tragedi publik. Kekerasan terjadi bukan karena kurangnya kecerdasan intelektual, tetapi karena lemahnya kemampuan mengatur emosi. Dalam kerangka Goleman, ini adalah contoh ekstrem dari ketidakseimbangan antara otak emosional dan otak rasional.
Tragedi di kampus ini menjadi pengingat bahwa kecerdasan emosional bukan konsep abstrak. Ia berhubungan langsung dengan keselamatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Lingkungan pendidikan yang hanya menekankan prestasi akademik tanpa membangun kesadaran pengelolaan emosi berisiko membiarkan konflik personal berkembang tanpa kendali.
Ketika emosi mengambil alih sepenuhnya, nalar tidak lagi menjadi penentu, dan konsekuensinya bisa sangat mahal.

Posting Komentar