Gen Z Mulai Jenuh dengan Konten AI, Nilai Karya "Orisinal" Jadi Meningkat Drastis
![]() |
| Ilustrasi iklan dengan konten AI |
INDO GEN Z- Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara konten diproduksi. Gambar, video, suara, hingga naskah dapat dibuat dalam hitungan menit. Namun di tengah ledakan teknologi tersebut, muncul fenomena baru di kalangan Generasi Z: meningkatnya kejenuhan terhadap konten yang terasa terlalu "AI".
Sejumlah riset internasional sepanjang 2025–2026 menunjukkan bahwa Gen Z semakin mampu mengenali materi visual, audio, maupun video yang dibuat menggunakan AI. Ketika sebuah konten terlihat terlalu sempurna, generik, atau kehilangan sentuhan manusia, banyak pengguna muda memilih untuk melewatinya (swipe).
Temuan dari Interactive Advertising Bureau (IAB) bahkan menunjukkan sentimen negatif Gen Z terhadap iklan berbasis generative AI lebih tinggi dibanding generasi yang lebih tua. Faktor utamanya bukan karena mereka menolak teknologi AI, melainkan karena mereka semakin mengutamakan autentisitas dan keaslian pengalaman.
Fenomena ini juga terlihat di berbagai platform media sosial. Tidak sedikit pengguna yang mulai menggunakan istilah "AI slop" untuk menggambarkan banjir konten AI yang dianggap repetitif, tidak kreatif, dan minim nilai emosional.
Feed yang dipenuhi gambar seragam, video
dengan ekspresi tidak natural, atau narasi yang terasa seperti hasil mesin
membuat sebagian pengguna kehilangan minat untuk berhenti dan memperhatikan.
Namun menariknya, kondisi tersebut bukan berarti Gen Z anti
terhadap AI.
Banyak anak muda tetap menggunakan AI untuk belajar, mencari
informasi, membuat desain, hingga membantu pekerjaan sehari-hari. Yang mereka
pertanyakan adalah ketika AI menggantikan unsur manusia yang menjadi inti
sebuah cerita, pengalaman, atau ekspresi kreatif.
Di sinilah muncul peluang baru bagi para kreator konten.
Ketika pasar digital dipenuhi materi yang diproduksi secara
massal dengan bantuan AI, konten yang benar-benar lahir dari pengalaman
personal justru memiliki nilai lebih tinggi. Foto yang tidak sempurna, cerita
berdasarkan pengalaman nyata, opini yang jujur, hingga video sederhana yang
memperlihatkan proses kreatif sering kali terasa lebih dekat dan relevan bagi
audiens muda.
Bagi kreator independen, penulis, fotografer, videografer,
ilustrator, maupun jurnalis, tren ini dapat menjadi momentum untuk kembali
menonjolkan identitas dan perspektif unik yang tidak mudah ditiru mesin.
Keaslian pengalaman hidup, sudut pandang personal, dan kemampuan membangun
koneksi emosional tetap menjadi keunggulan manusia.
Meski demikian, bukan berarti kreator harus meninggalkan AI
sepenuhnya. Banyak ahli pemasaran digital justru melihat pendekatan hibrida
sebagai strategi paling efektif. AI dapat digunakan untuk membantu riset,
editing, transkripsi, atau mempercepat proses produksi, sementara ide, cerita,
karakter, dan pesan utama tetap berasal dari manusia.
Dengan kata lain, masa depan konten digital kemungkinan
bukan pertarungan antara manusia melawan AI. Sebaliknya, yang akan unggul
adalah mereka yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat, tanpa kehilangan
identitas kreatifnya.
Bagi Gen Z yang tumbuh di tengah banjir informasi digital,
keaslian kini menjadi mata uang baru. Semakin mudah konten dibuat oleh mesin,
semakin tinggi pula nilai dari sesuatu yang terasa nyata, personal, dan
manusiawi. Itulah peluang yang sedang terbuka lebar bagi para kreator orisinal
di era AI.

Posting Komentar